Oleh: Dian Ekawati

Abstract: Almost 75% of leaning process in the classroom is through reading. Research showed that the ability to read was considered as an important ability in mastering a foreign language especially English whereas other skills such as writing, listening and speaking were integrated during reading learning process. Reading comprehension is a process of active thinking where intentionally readers build the comprehension by creating a concept and information from the text. There are some alternatives of reading model that can be used in order to improve the students’ reading comprehension. One of them is “The Interactive-Compensatory Model”. This reading model was traced from the concept of information process information, behaviorism theory and schema theory. The model comprised of three components. First component is Pre-Reading comprised of Activating Prior Knowledge and Setting the Purpose of Reading activities. Second component is During-Reading Comprised of Modelled reading, Skimming, Scanning and Identifying the Text Type activities. Third component is After-Reading comprised of Summarizing activities.

Key Word: Reading, students, method

A. Pendahuluan

Proses pendidikan tidak terlepas dari sebuah proses pembelajaran.  Tugas seorang guru tidak hanya sekedar sebagai seseorang yang akan menambahkan informasi dan memberikan kemampuan baru kepada peserta didiknya tetapi seorang guru harus mampu menentukan jenis informasi dan kemampuan apa yang harus dikuasai oleh peserta didik sehingga akan dapat membantu mereka memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kelak.  Dalam kondisi ini guru harus mampu untuk menentukan strategi pembelajaran apa yang harus dilakukan agar semua proses tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dick dan Carey (1990) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia yang sudah  dipelajari dari jenjang Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, terutama di tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas). Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan sebagai alat bagi pengembangan diri siswa terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Hanya sedikit diantara mereka yang mampu menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi lisan maupun tulis.

Tujuan pembelajaran bahasa Inggris di SMP adalah pembelajaran yang berbasis literasi yang bertujuan agar siswa memiliki kompetensi wacana.  Keterampilan membaca merupakan salah satu keterampilan literasi yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat. Masyarakat yang literat akan sanggup menyerap dan menganalisis kemudian mensintesis dan mengevaluasi terhadap informasi yang tercetak sebelum mengambil keputusan menurut kemampuan nalar dan intuisinya.

Belajar bahasa atau mata pelajaran apapun tidak terlepas dari kegiatan membaca. Membaca merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari yang sangat penting bagi kehidupan akademik, personal dan sosial seseorang. Pernyataan tersebut di perkuat oleh Bernhart dikutip dari Ediger (1991:154) yang memandang membaca sebagai sebuah proses interaksi dan sosiokognitif yang melibatkan teks, pembaca dan konteks sosial dimana kegiatan membaca itu terjadi. Mengingat pentingnya kegiatan membaca bagi kehidupan manusia, maka tidaklah mengherankan jika banyak pihak yang peduli terhadap upaya peningkatan kemampuan membaca ini. Pentingya kemampuan membaca yang baik tidak hanya dirasakan dan dituntut dalam pembelajaran bahasa, tetapi juga dalam pembelajaran mata pelajaran yang lainnya. Jadi bisa di katakan bahwa kegiatan membaca merupakan sine quo non dalam semua proses pendidikan. Pendapat tersebut didukung oleh Wilson dan Trainin (2007) yang dikutip dari Westwood (2008:257) yang menyatakan bahwa “The cornerstone of academic achievement and the foundation for success across the curriculum is learning to read and write proficiently”. Pembelajaran membaca (reading instruction) merupakan sebuah pembelajaran utama yang harus dilaksanakan oleh sekolah. Sukses atau tidaknya sebuah sekolah dapat dilihat dari proses pembelajaran membaca yang dilaksanakan di sekolah tersebut (Van Proyen dan Clouse, 1994:3) dan hampir 75 persen dari kegiatan pembelajaran semua mata pelajaran yang berlangsung dikelas melalui proses membaca. Dari penyataan diatas, dapat dipahami bagaimana pembelajaran membaca mempengaruhi aspek-aspek lain dari proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran membaca pemahaman bahasa Inggris dikelas selama ini, siswa cenderung mempunyai orientasi untuk mendapatkan nilai semata. Para guru jarang sekali mengembangkan keterampilan membaca, karena menurut persepsi mereka pemahaman membaca akan berkembang sendiri secara natural selama para siswa mengetahui makna/arti kosakata (words) yang ada di dalam teks Penguasaan kosakata memang bisa menjadi salah satu modal yang cukup untuk memahami sebuah teks dan siswa yang lemah penguasaan kosakatanya akan menghadapi pemasalah yang serius terhadap pemahaman membaca. Tetapi penguasaan kosakata saja tidak dapat mampu membantu siswa untuk memahami sebuah teks selain siswa harus diajarkan tentang bagaimana menguasai kosakata siswa juga harus diajarkan keterampilan dan strategi dalam memahami sebuah teks (Rapp dkk, 2007).

Selain itu untuk mengembangkan keterampilan membaca dalam pembelajaran bahasa Inggris guru cenderung melaksanakan proses pembelajaran membaca secara konvensional. Guru hanya membaca teks dan bersama-sama menjawab pertanyaan berdasarkan teks dengan tidak memperhatikan bagaimana mengembangkan kemampuan membaca pemahaman bagi siswa. Pernyataan diatas sesuai dengan pendapat yang diungkapakan oleh Winograd dan Greenlee (1986) mengatakan bahwa:

“Teachers are spending too much time managing children through materials by assigning them activities and asking questions and too little time engaged in the kind of teaching that will help children into independent readers”.

Dewasa ini, siswa dihadapkan pada kesulitan untuk memahami suatu bacaan secara efektif.  Pembaca yang memiliki pemahaman membaca yang baik menurut Westwood (2008:32) adalah seorang pembaca yang menggunakan berbagai keketrampilan kognitif ketika mereka membaca. Disamping itu, pembaca juga menggunakan keterampilan metakognitif untuk memantau pemahaman mereka sendiri terhadap bacaan. Hal ini didukung oleh Torgesen (2000) yang menyatakan bahwa pemahaman membaca merupakan sebuah proses yang melibatkan proses kognitif dan afektif.

A. The Interactive-Compensatory Model sebagai Alternatif  model pengembangan Model Pembelajaran Membaca di Kelas

Pengembangan Pembelajaran The Interactive Compensatory Method didalam penelitian ini didefinisikan sebagai pola atau desain yang berisi kerangka konseptual dan prosedur atau langkah-langkah sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Dalam hal ini model pembelajaran membaca yang  dikembangkan adalah model pengembangan pembelajaran membaca yang berakar dari dua teori utama adalam pembelajaran membaca yaitu konsep pendekatan membaca Part-Centered Skills Approach dan pendekatan membaca Socio-Psycholinguistic Approach pada mata pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama. Masing-masing pendekatan menggambarkan perbedaan konsep tentang proses-proses yang terlibat dalam pembelajaran membaca. Pembelajaran membaca dirancang, dilaksanakan dan dievaluasi hasilnya, melibatkan guru dan siswa serta faktor-faktor pendukung lainnya seperti bahan ajar, alat Bantu belajar mengajar, dan lingkungan belajar untuk memperoleh hasil yang baik.

B. Landasan Teori

1. Teori Pemrosesan Informasi

Teori  membaca lahir dari perspektif bagaimana makna diangkat dari teks. Inti proses membaca adalah usaha seseorang yang berusaha untuk memahami isi pesan penulis yang tertuang dalam bacaan. Teori subskill yang mendasarinya model membaca Bottom-Up (part-centered skills approach). Secara literal arti bottom-up (dr bawah ke atas) adalah makna itu berasal dari bawah (teks) menuju ke atas (otak) dan secara harfiah, menurut teori ini teks-lah yang menentukan pemahaman.Teori ini memandang bahwa struktur-struktur yang ada di dalam teks dianggap sebagai unsur yang memainkan  peran utama. Teori subskill merupakan proses penerjemahan, dekod dan enkod. Dekod ialah kegiatan mengubah tanda-tanda menjadi berita. Enkod ialah kegiatan mengubah berita menjadi lambang-lambang. Peristiwa decoding tampak pada pihak menyimak (dalam peristiwa komunikasi lisan) dan para pembaca (dalam peristiwa komunikasi tulis). Sementara kegiatan encoding terjadi pada para pembicara (untuk peristiwa komunikasi lisan dan para penulis (untuk peristiwa komunikasi tulis). Membaca dalam teori ini adalah proses yang melibatkan ketepatan, rincian dan rangkaian persepsi dan identifikasi huruf-huruf, kata-kata, pola ejaan dan unit bahasa lainnya. Teori pemrosesan membaca ini akan memulai proses membacanya dengan pengenalan dan penafsiran terhadap huruf-huruf. Dalam hal ini teks diproses oleh pembaca tampa pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Perhatian pembaca diarahkan pada kata-kata dan bagian-bagian kata, sedangkan makna baru timbul dari kumpulan kata-kata yang terbaca. Kegiatan membaca di mulai dengan dasar pengenalan tulisan dan bunyi yang kemudian merekognisi morfem, kata, identifikasi struktur gramatikal, kalimat, lalu teks. Proses rekoqnisi dari huruf, kata, frasa, kalimat teks dan akhirnya ke makna merupakan urut-urutan dalam mencapai pemahaman. Dengan kata lain proses membaca di mulai dengan melihat teks yang kemudian ditarik  ke dalam struktur otak untuk mengidentifikasi dan mencari maknanya.

Teori terakhir adalah teori pembaca interaktif dimana teori  ini merupakan kombinasi antara pemahaman teori membaca Top-Down dan teori membaca Bottom-Up. Pada teori membaca  interaktif, pembaca mengadopsi pendekatan Top-Down untuk memprediksi makna, kemudian beralih ke pendekatan Bottom-Up untuk menguji apakah hal itu benar-benar dikatakan oleh penulis. Artinya, kedua model tersebut terjadi secara stimultan pada saat membaca. Teori ini memandang bahwa kegiatan membaca merupakan suatu interaksi antara pembaca dengan teks. Dengan teori itu, dijelaskan bagaimana seorang pembaca menguasai, menyimpan dan mempergunakan pengetahuan dalam format skemata. Kegiatan membaca adalah proses membuat hubungan yang berarti bagi informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya (skemata).

Proses membaca menurut pandangan interaktif adalah proses intelektual yang kompleks, mencakup dua kemampuan utama, yaitu kemampuan memahami makna kata dan kemampuan berpikir tentang konsep verbal (Rubin, 1982). Pendapat ini mengisyaratkan bahwa ketika proses membaca berlangsung, terjadi konsentrasi dua arah pada pikiran pembaca dalam waktu yang bersamaan. Dalam melakukan aktivitas membaca, pembaca secara aktif merespon dan mengungkapkan bunyi tulisan dan bahasa yang digunakan oleh penulis. Selain itu, pembaca dituntut untuk dapat mengungkapkan makna yang terkandung di dalamnya atau makna yang ingin disampaikan oleh penulis melalui teks yang dibacanya.

2. Teori Behaviorisme

Bahasa adalah bagian fundamental dari keseluruhan perilaku manusia.  Teori behaviorisme sebagai salah satu teori yang berfokus pada aspek-aspek yang bisa ditangkap langsung dari perilaku linguistik dalam hal ini respons yang bisa diamat secara nyata dan berbagai hubungan atau kaitan antara respons-respons itu dan peristiwa di dunia sekeliling mereka.

Sejalan dengan teori behaviorisme perkembangan kematangan berbahasa tergantung pada frekwensi atau lamanya latihan. Belajar bahasa dengan cara peniruan atau tubian (drill) merupakan teknik utama pada teori behaviorisme ini. Teknik tubian yang selalu menjadi ciri pembelajaran bahasa merupakan salah satu bukti keberhasilan pendekatan ini. Teknik tubian terutama digunakan pada pertemuan-pertemuan awal pembelajaran bahasa asing. Demikian pula dengan pembelajaran membaca, teknik tubian (drill) di terapkan dalam kegiatan pengucapan secara verbal sejumlah kosakata baru yang berasal dari teks. Kegiatan pembelajaran cenderung berpusat pada guru, guru yang mentransfer semua pengetahuan yang hendak diajarkan.  Pembelajaran membaca ditekankan pada keterampilan untuk menguasai sejumlah kosakata dan mampu untuk menyandikan atau membunyi kosa kata dengan tepat dan akurat agar mampu memahami sebuah teks/bacaan (words recognition).

3. Teori Skemata

Istilah skema dipergunakan oleh Piaget yang  merupakan salah seorang tokoh psikologi  yang  menemukan model yang mendiskripsikan bagaimana manusia bertindak untuk memaknai dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasi informasi. Ide-ide Piaget tentang perkembangan pikiran adalah salah satunya teori skemata. Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Bartlett pada tahun 1930-an bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca akan mempengaruhi tidak saja apa yang pembaca ingat dari membaca tetapi juga pemahaman terhadap teks. Perkembangan teori skemata berupaya untuk menjelaskan hasil penelitian yang menyatakan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca akan mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap teks. Menurut Alderson (2000:33) skemata merupakan “…..interlocking mental structures representing reader’s knowledge’. Sedangkan menurut Nunan (1999:133) teori skema menjelaskan tentang pengetahuan yang ada di pikirann kita yang dirancang/organisasikan ke dalam pola yang berhubungan. Pengetahuan tersebut dibentuk/dibangun dari pengalaman sebelummnya berdasarkan pengalaman.  Hal ini bermakna bahwa ketika pembaca memproses teks, pembaca mengintegrasikan informasi-informasi baru kedalam skemata yang telah mereka miliki. Lebih dari itu skemata mereka juga mempengaruhi bagaimana pembaca menguasai informasi demikian juga bagaimana mereka menyimpan informasi itu.

D. Pembelajaran The Interactive-Compensatory Model

Model pembelajaran membaca yang dikembang mengandung tiga tahapan kegiatan pembelajaran membaca yaitu kegiatan before-reading activity, during-reading activity dan after-reading activity.  Hal ini sejalan dengan pendapat Wallace (1992:84) yang menyatakan bahwa  pemanfaatan teks dalam kegiatan pembelajaran  dikelas dapat dilakukan dengan  membagi perencaaan pembelajaran kedalam tiga bagian: (1) apa yang akan guru lakukan sebelum kegiatan pembelajaran, (2) apa yang akan dilakukan guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran membaca berlangsung dan (3) apakah yang akan dilakukan oleh guru ketika teks tersebut telah selesai dibaca. Masing-masing tahapan kegiatan pembelajaran membaca mengandung tujuan yang menunjang pemahaman membaca siswa

1. Kegiatan membaca  awal/Pendahuluan (before-reading activity)

Dalam kegiatan awal membaca (before-reading activity).Kegiatan awal membaca  (before-reading activity) terutama bertujuan untuk mempersiapkan siswa apabila mereka menghadapi kesulitan dalam hal kebahasaan, budaya dan konsep-konsep membaca dan juga tujuan dari kegiatan awal membaca ini adalah untuk mengaktifkan pengetahuan awal siswa. Dalam hal ini siswa harus pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa harus dipersiapkan sebelum mereka memasuki kegiatan membaca. Seperti yang dikatakan oleh Gibbon (2002:85) bahwa berdasarkan teori jika siswa terlibat dalam kegiatan membaca  dengan membawa pengertian atau pemahaman tentang apa yang yang telah mereka ketahui mengenai teks tersebut maka kegiatan membaca menjadi lebih mudah karena mereka sudah memiliki pengetahuan awal yang berkaitan dengan teks. Dalam kegiatan awal membaca  langkah-langkah pembelajaran yang dikembang terdiri dari:

a. Activating Prior Knowledge (pengaktipan pengetahuan Awal)

Agar siswa dapat memahami teks yang akan mereka baca maka siswa harus diajak untuk terlibat dalam suatu kegiatan pembelajaran yang dapat mengundang  siswa untuk menghubungkan  pengalamannya  dengan pengalaman yang ada dalam buku teks. Jika pengetahuan awal telah diaktifkan di awal kegiatan pembelajaran membaca maka siswa tidak akan tergantung lagi dengan dengan kosakata yang terdapat dalam teks dalam memahami bacaan. Salah satu strategi yang bertujuan untuk mengaktifkan pengetahuan yang telah dimiliki pembaca dalam hal ini siswa adalah memalui kegiatan Brainstorming. Brainstorming  yang mempunyai arti curah pendapat merupakan kegiatan pembelajaran yang dipergunakan diawal kegiatan pembelajaran. Curah pendapat adalah teknik pembelajaran yang dipakai untuk menghimpun gagasan dan pendapat untuk menjawab pertanyaan tertentu, dengan cara mengajukan pendapat atau gagasan sebanyak-banyaknya. Wallace (1992:91) mengatakan bahwa salah satu teknik kegiatan membaca awal yang populer dipergunakan adalah brainstorming. Karena brainstorming memiliki beberapa keuntungan sebagai salah satu teknik pembelajaran di kelas antara lain, pertama, kegiatan brainstorming tidak memerlukan banyak persiapan, kedua, kegiatan brainstorming memungkinkan siswa bebas untuk mengeluarkan pengetahuan awal  dan gagasan yang mereka miliki untuk menyatu dengan tema yang akan dipelajari pada hari itu dan ketiga kegiatan brainstorming melibatkan semua siswa dalam kegiatan pembelajaran. Disamping brainstorming kegiatan lainnya adalah semantic mapping yang bertujuan untuk mengklasifikasikan semua informasi yang dihasilkan oleh siswa setelah dilanjutkan dengan kegiatan analyzing the vocabulary dimana dalam kegiatan ini semua informasi yang dihasilkan oleh siswa di analisis dalam kegiatan dengan mengklasifikasikan informasi dalam hal ini kosakata yang merupakan hasil pengaktifan pengetahuan awal siswa. Adapun kegiatan ini berupa kegiatan dimana guru menjelaskan kepada siswa tentang semua aspek-aspek kebahasaaan yang merupakan hasil dari gagasan siswa seperti, jenis kata kerja, bentuk waktu dan pengucapan.

Kegiatan membaca inti (During-Reading Activity)

During reading merupakan tahapan inti dari kegiatan pembelajaran membaca. Selain itu kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling kompleks untuk membangun suasana kelas karena dalam proses pembelajaran terjadi peristiwa dimana siswa diharapkan untuk tetap berpegangan dengan kamus, teks dan guru. Pada tahapan ini, siswa akan lebih mengetahui lagi tujuan dari pembelajaran membaca yang sedang berlangsung saat itu.

a. Modelled reading

Modelled reading merupakan sebuah kegiatan membaca yang bertujuan untuk mendemostrasikan bagaimana cara membaca secara efficient, lancar yang diikuti oleh jeda dan ungkapan yang benar dan dengan paragraph  reading dapat membantu  siswa untuk mampu  membaca secara mandiri (Hood, Solomon dan Burn, 2005:77).

b. Skimming the text

Skimming merupakan salah satu strategi membaca dimana proses pembelajaran membaca hanya  dilakukan dengan membaca sekilas saja, misalnya  ketika membaca esai, artikel atau bab untuk mencari inti sari dari bacaan. Teknik membaca ini sering juga didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran membaca yang bertujuan untuk mengambil intisari atau saripati

c. Scanning the text

Scanning adalah suatu kegiatan membaca dengan cepat. Tujuan membaca cepat adalah untuk informasi penting tampa membaca keseluruhan teks. Sebagai contoh ketika hendak mencari informasi tentang nama seseorang, tanggal atau untuk mencari kunci sebuah konsep kedalam kelompok informasi tertentu. Yang sebelumnya berantakan/kacau.

d. Identifying the text type

Identifying the text type merupakan kegiatan pengidentifikasian  jenis teks. Berdasarkan KTSP pembelajaran bahasa Inggris SMP tujuan utama mata pelajaran bahasa Inggris adalah untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa tersebut baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Kemampuan berkomunikasi ini pada hakekatnya adalah kemampuan berwacana, yaitu kemampuan seseorang dalam pemahaman dan penciptaan wacana.

2. Kegiatan membaca akhir (After-Reading activity)

Kegiatan terakhir dari tahapan kegiatan pembelajaran membaca adalah after-reading activity yang menurut Chastain (1988) after-reading activity adalah kegiatan untuk membantu siswa untuk mengklarifikasi makna yang tidak jelas yang terdapat di dalam teks yang berfokus pada pemahaman bukan pada pada aspek tatabahasa atau leksikal. Kegiatan pada tahapan ini sangat tergantung dari tujuan kegiatan mencapai yang ingin dicapai dan jenis informasi yang terdapat dalam teks.

a. Summarizing

Tujuan dari tahapan ini adalah untuk mendorong siswa untuk menidentifikasi poin utama dari teks. Kegiatan Summarizing dapat dimulai dengan meminta siswa untuk mendiskusikan apa yang dapat mereka tebak tentang konten teks yang telah mereka baca dalam sebuah kalimat pernyataaan yang sederhana.

C. Penutup

Dengan mengacu kepada landasan teoritis dan landasan praktisnya, maka Pembelajaran TICM ini merupakan model pembelajaran yang mengabungkan dua buah pendekatan membaca yang mana model ini berlandaskan pada teori membaca yaitu Bawah-Atas (Bottom-Up) dan Atas-Bawah (Top-Down).     Adapun pelaksanaan pembelajarannya mengutamakan kemampuan siswa untuk memberdayakan skemata dalam hal ini pengetahuan awal yang mereka miliki untuk memahami teks yang akan mereka baca melalui kegiatan yanag sudag dirancang oleh guru yaitu melalui kegiatan tanya jawab dan pemetaan makna dalam rangka untuk memperkayaan penguasaan kosa kata yang dimiliki oleh siswa. Untuk mewujudkan rancangan dan kegiatan pembelajaran tersebut, pembelajaran TICM mengacu pada prinsip-prinsip Piaget dan Vygotsky. Untuk lebih jelasnya, berikut ini  gambaraan pembelajaran TICM tersebut dilihat dari desain, proses dan dampaknya sebgaimana hasil temuan-temuan penelitian dan pengembangan.

Daftar Pustaka

Alderson, J. Charles. (2000). Assessing Reading. Cambridge: Cambridge University

Chastain, Kenneth. (1988). Developing Second-Language Skills Theory and Practice. Orlando: Harcourt Brace Jovanovich

Dick, Walter dan Lou Carey. (1994). The systematic design of instruction. New York: Harper   Collins Publishers.

Ediger, Anne. (2001). Teaching Children Literacy Skills in a Second Language. Dalam Marriene Celce Murcia (penyunting). Teaching English as a Foreign Language. Hal. 153-201. Boston: Heinle & Heinle

Gibbon, Pauline (2002). Scaffolding language, Scaffolding Learning : Teaching Second language in Mainstream Class. Portsmouth, NY : Heinemann.

Hood, Susan, Nicky Solomon dan Anne Burns. (2005). Focus on Reading. Sydney : Centatime (NSW) Pty Ltd.

Nunan, David. (1991). Second Language Teaching & Learning. Boston, MA: Heile &h Heinle Publishers.

Rapp, D. N., van den Broek, P., McMaster, K.L., Kendeou, P., dan Espin, C.A. (2007). Higher-Order Comprehension Processes in Struggling readers: A Perspective for Research and Intervention. Scientific Studies of Reading, 11, 4, 289-312.

Van Prooyen, Nancy dan Clouse, R Willburn. (1984). Three Approaches to Teaching Reading : Basal, language Experience dan Computer Assisted Instruction : Nashville : ERIC

Wallace, Chatherine. (1992). Reading. Oxford : Oxford University Press.

Westwood, Peter S. (2008). What teachers need to know about reading and Writing difficulties. Victoria: ACER Press.